Seorang Perwira Filipina Tewas Tertembak di Kompleks Kepresidenan

AFP

IsuPublik.com, Filipina – SEORANG perwira di pasukan elit militer pimpinan Presiden Filipina Rodrigo Duterte ditemukan tewas tertembak pada Selasa (25/9) di dalam kompleks kepresidenan yang luas. Mayor Harin Gonzaga, 37, ditemukan oleh istrinya dengan luka tembak ke jantung di dalam kamarnya di kompleks Malacanang di Manila.

Brigadir Jenderal Lope Dagoy, kepala Satuan Keamanan Presiden mengatakan bahwa tidak ada tanda-tanda awal permainan kotor atau indikasi adanya sebuah perlawanan, namun polisi masih menyelidiki. “Kami mengesampingkan permainan kotor. Tentu tidak ada permainan kotor,” ujar Dagoy.

Lebih lanjut, Dagoy mengatakan, insiden tersebut terjadi jauh dari tempat tinggal Duterte di dalam kompleks. Ia menambahkan bahkan anggota keamanan lainnya pun tidak mengetahui penembakan tersebut sampai istri Gonzaga menemukan jenazah suaminya.

“Istri Gonzaga, yang adalah seorang sersan di pasukan keamanan, mengatakan bahwa baik dirinya maupun suaminya, tidak menghadapi masalah selain beban kerja Gonzaga yang berat,” kata Dagoy kepada wartawan.

Gonzaga bertanggung jawab atas operasi pasukan keamanan dan bukan merupakan salah satu penjaga pribadi presiden.

Saat kejadian tersebut berlangsung, pejabat istana kepresidenan mengakui, Duterte memang tidak sedang berada di rumahnya. Namun juru bicara kepresidenan, Ernesto Abella mengaku tak bisa mengonfirmasi di mana Duterte saat kejadian.

Abella menuturkan, terlalu dini untuk berkomentar mengenai insiden penembakan itu. “Itu (penembakan) sedang diselidiki dan sifat situasinya perlu diklarifikasi.”.

Sebelumnya Duterte menghabiskan akhir pekan di kota asalnya, Davao City dan tak terlihat di depan publik pada Senin (25/9). Duterte dijadwalkan menghadiri sejumlah acara di ibu kota Manila pada Selasa (26/9) malam waktu setempat.

Duterte terpilih dalam sebuah keputusan tahun lalu dengan sebuah sumpah untuk memberantas obat-obatan terlarang di masyarakat dengan membunuh 100.000 pedagang dan pecandu.

Sejak dia menjabat 15 bulan yang lalu, polisi telah melaporkan pembunuhan lebih dari 3.800 orang dalam operasi anti-narkoba, dan lebih banyak lagi terbunuh dalam keadaan misterius.

Meskipun mendapat kritik dari kelompok hak asasi manusia, dia masih mendapat banyak dukungan di antara orang-orang Filipina yang melihatnya sebagai politisi dan harapan terbaik mereka untuk mengurangi kejahatan dan korupsi.

Media Indonesia

SHARE