Bada Salai, Kudapan Nikmat yang Hanya Ada di Maninjau

Isupublik.com, Batam – Kurang puas rasanya menikmati keindahan Danau Maninjau jika tidak menyicipi kenikmatan Bada Salai yang khas. Pasalnya, kudapan yang satu ini hanya bisa ditemukan di danau vulkanik yang berada di jantung Kabupaten Agam itu.

Di tepian Danau Maninjau, persisnya di Jorong Gasang, Nagari Maninjau, berderet banyak warung sederhana yang menjual aneka kudapan khas Danau Maninjau.

Bada Salai menjadi satu di antara aneka kudapan yang cukup digemari. Peminat Bada Salai berdatangan dari luar daerah Sumatra Barat, bahkan mancanegara.

Putri (33), salah seorang pelancong asal Kota Padang mengaku sengaja singgah ke Danau Maninjau untuk sekadar membeli oleh-oleh khas yang diproduksi masyarakat setempat.

Menurutnya, kudapan yang ada di Danau Maninjau memiliki cita rasa yang bisa memanjakan lidahnya dan keluarga.

“Setiap lewat di sini selalu beli, paling disuka Bada Salai, karena bisa diolah jadi balado dan daya simpannya cukup lama,” katanya, Sabtu (26/6/2021).

Salah seorang pedagang aneka kuliner di Gasang, Ani (50) menuturkan, Bada Salai merupakan makanan berbahan dasar hewan endemik Danau Maninjau yang diolah melalui proses pengasapan.

Bada memiliki bentuk yang hampir mirip dengan Ikan Bilih yang ada di Danau Singkarak. Namun, jika dicermati antara Bada dan Bilih memiliki perbedaan yang mencolok.

“Bedanya bisa nampak dari segi warnanya yang lebih terang, sisiknya lebih halus, dan ukurannya hanya sekelingking orang dewasa,” ujar Suryani.

Dari segi rasa, imbuhnya, Bada ini lebih manis dan gurih. Bada bisa diolah menjadi makanan melalui proses digoreng, dipepes dan yang paling spesial adalah diasapi atau disalai di atas bara api.

“Warna agak hitam kekuningan ini didapat dari proses pengasapan, bukan melalui proses penjemuran di bawah sinar matahari,” ujarnya.

Ani tidak memungkiri Bada Salai menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak diminati pelancong. Sebagian besar pembeli merupakan wisatawan luar daerah.

Diakuinya, keberadaan ikan khas danau memang menjadi ladang rezeki bagi sejumlah masyarakat setempat. Banyaknya pengunjung menjadi berkah tersendiri para pedagang pun baginya.

Meski demikian katanya, pembeli yang datang akhir-akhir ini tak menentu. Membuat dagangannya kadang laris manis, sesekali pernah cukup untuk menutup kebutuhan harian saja.

Soal omzet per hari, Ani tidak mau blak-blakan. Namun, dari hasil penjualan aneka makanan khas Danau Maninjau itu dirinya bisa melunasi kebutuhan keluarga.

“Alhamdulillah cukuplah untuk memenuhi kebutuhan selama lima tahun terakhir ini,” urainya.

Dirinya pun tidak mematok harga yang fantastik untuk satu kantong Bada Salai. Di lapak miliknya, dipatok seharga Rp30 ribu, sedangkan Bada Goreng Rp20 ribu per kantong.

Selain Bada Salai dan Bada Goreng, di lapak milik Ani juga terdapat sejumlah makanan yang tak kalah nikmat seperti Pensi, Palai Rinuak, Palai Bada, Peyek Rinuak, dan lainnya.

Namun di satu sisi, ulasnya lagi, saat ini untuk mendapatkan bahan baku seperti Bada ujarnya Rinuak terbilang susah. Menurutnya, populasi hewan endemik Danau Maninjau itu tak lagi seperti dulu.

“Sekarang agak susah, dulunya harga Rp10 ribu sekilo basah dari nelayan, sekarang bisa mencapai Rp30 per kilonya,” imbuhnya. (IP)